Apa itu syafa’at? Kita harus paham akan hal ini biar tidak terjerumus pada pemahaman yang keliru.
Hari kiamat adalah kehidupan di akhirat yang satu harinya sama dengan
50.000 tahun lamanya. Di sana tidak terdapat bangunan, pohon untuk
berlindung, dan tidak ada pula pakaian yang menutupi badan. Keadaan pada
saat itu saling berdesakan. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian pada saat
itu,
“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaahaa [20] : 108)
Hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Manusia pada saat itu akan menemui kesulitan dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihilangkan selain dengan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi untuk menghilangkan kesulitan mereka saat itu.
Tunggu kelanjutan bahasan syafa’at. Semoga ma
يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا
“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaahaa [20] : 108)
Hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Manusia pada saat itu akan menemui kesulitan dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihilangkan selain dengan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi untuk menghilangkan kesulitan mereka saat itu.
Apa itu Syafa’at?
Ibnul Atsir mengatakan, “Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Yang dimaksud dengan syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.”
Dalam Tajul ‘Urus, asy syafi’ (الشَّفِيْـعُ) adalah orang yang
mengajukan syafa’at, bentuk jama’/pluralnya adalah syufa’a’ (شُفَعَاءُ)
yaitu orang yang meminta untuk kepentingan orang lain agar keinginannya
terpenuhi
Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil
dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ).
Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti
lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal
dengan istilah bilangan ‘genap’.
Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam
menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan
yang bisa menyelesaikan hajat.”
Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut:
Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana
yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin
meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini
tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi
perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan
si A terpenuhi.
Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at.
Sedangkan syafa’at ketika hari kiamat nanti di antaranya adalah
melalui syafa’at (perantara) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat
yang sebelumnya mengalami kesulitan ketika berkumpul di padang masyhar,
akhirnya mendapat pertolongan melalui syafa’at beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam. Syafa’at ini adalah do’a yang beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ يَدْعُو بِهَا ، وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى فِى الآخِرَةِ
“Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk
berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at
bagi umatku di akhirat nanti.” (HR. Bukhari, no. 6304)Tunggu kelanjutan bahasan syafa’at. Semoga ma
Komentar
Posting Komentar